Make your own free website on Tripod.com
   
New Release, Halaman Utama Tutorial, Digital Arsitektur dll Karya, Presentasi dll Message Board
     
Maret 2001
 

WELCOME to ARCHITECTURE UAJY on LINE

 

Kolom   Vol I / 03

 

     
 

QUO VADIS PENDIDIKAN ARSITEKTUR ATMA JAYA ?
Sebuah Otokritik

 
     
 
Oleh :
Ir. Y. Djarot Purbadi, MT.
10 Maret 2001
HTML Format
BAHASA INDONESIA
 
     
 

ADIS PENDIDIKAN ARSITEKTUR ATMA JAYA ?
Abstrak

Detailed design sebagai pola ilmiah pokok (PIP) pada program studi Arsitektur Atma Jaya merupakan kata kunci yang kontroversial sejak tahun 1987. Detailed design pada dasarnya mengandung ketidakjelasan, dan terbukti tidak mengarahkan secara signifikan pada operasionalisasi pembelajaran dan hasil pengajaran yang diharapkan sesuai kurikulum. Pendidikan Arsitektur Atma Jaya perlu melakukan evaluasi dan refleksi yang mendalam untuk menegaskan cirikhas pendidikannya, dengan mempertimbangkan hakekat eksistensi diri arsitek dan arsitektur di era milenium ketiga termasuk melihat pemikiran - pemikiran yang berkembang dari dalam kalangan arsitektur maupun kritik dari luar kalangan arsitektur.

Pendahuluan

Tiga puluh lima tahun merupakan usia yang masih sangat muda untuk sebuah perguruan tinggi, apalagi usia sekitar 20 tahun untuk sebuah program studi di dalamnya, yakni Arsitektur Atma Jaya. Kurikulum pendidikan yang berlaku di Arsitektur Atma Jaya saat ini adalah kurikulum yang diperbaharui pada tahun 1995, maka menurut ukuran kewajaran memang sudah harus dilakukan usaha - usaha penyempurnaan. Lazimnya sebuah penyempurnaan selalu didahului dengan suatu evaluasi yang "obyektif" artinya bertumpu pada fakta lapangan, tetapi kesiapan untuk memperbaharui dengan tahap semacam itu belum terlihat tanda - tandanya. Tulisan ini ingin melakukan kritik sekaligus menyumbangkan pemikiran, bahwa cirikhas pendidikan Arsitektur Atma Jaya seharusnya dipikirkan kembali sekaligus dipertajam untuk masa - masa yang akan datang dengan pendekatan yang lebih baik.

Detailed Design : sebuah impian ?

Detailed Design adalah rumusan singkat dari Pola Ilmiah Pokok (center of excellence) bagi Arsitektur Atma Jaya. Detailed Design adalah sebuah kata kunci yang kontroversial milik komunitas dosen Arsitektur Atma Jaya selama beberapa tahun ini. Kata kunci tersebut masuk dan menjadi wacana di kalangan Arsitektur Atma Jaya sejak sekitar tahun 1987, ketika program studi ini mencapai usia sangat muda yakni sekitar 6 tahun. Kata kunci tersebut telah beberapa kali diperbincangkan, dan kini telah mencapai usia 13 tahun namun tetap mengandung kekaburan yang cukup signifikan.

Kata kunci tersebut kontroversial karena selama ini implementasinya di dalam pengajaran tidak terlihat, minimal tidak diperoleh bukti faktual yang mendukung operasionalisasinya di dalam praktek pengajaran maupun kualitas keluarannya. Dosen maupun mahasiswa Arsitektur Atma Jaya, yang notabene di dalam mental map-nya ada kata keramat "detailed design", ternyata melakukan kegiatan belajar - mengajar yang sama dengan dosen dan mahasiswa arsitektur dari institusi lain. Bahkan dapat dinyatakan tegas bahwa tidak ada bedanya mengikuti kegiatan perkuliahan arsitektur di Atma Jaya dengan di institusi lain, baik negeri maupun swasta. Oleh karenanya, sulit menjawab secara mendasar dan bertanggungjawab atas pertanyaan : apa itu detailed design dan bagaimana dampaknya pada proses dan kualitas pengajaran serta kualitas out put pengajarannya ?

Permasalahannya adalah, kalau detailed design memang diharapkan menjiwai kualitas lulusan Arsitektur Atma Jaya, maka tentulah menjiwai seluruh isi dan proses perkuliahan pada mata kuliah - mata kuliah perancangan arsitektur (studio). Hal itu semestinya berarti bahwa pada mata kuliah perancangan arsitektur (studio), yang di Arsitektur Atma Jaya menjadi bagian inti dari kurikulumnya, diterapkan suatu metoda pengajaran dan evaluasi yang khusus dan hal itu khas Arsitektur Atma Jaya untuk menegaskan adanya muatan khusus (yakni detailed design) yang dikembangkan.

Tetapi ternyata hal semacam itu tidak ada di dalam manajemen perkuliahan pada mata kuliah - mata kuliah perancangan arsitektur (studio), bahkan selama bertahun - tahun sejak kelahiran konsep itu !!!! Artinya, seorang dosen arsitektur dari institusi lain kalau mengajar mata kuliah perancangan arsitektur (studio) di Atma Jaya akan melakukan dan mengalami hal yang sama seperti ketika mereka mengajar di institusinya pada mata kuliah yang sama. Para dosen tidak dibekali (atau membekali diri) dengan "sesuatu" yang khusus diarahkan untuk mengoperasionalkan ide - ide atau kriteria detailed design dalam kegiatan perkuliahannya. Bahkan tolok ukur atau kriteria detailed design tidak ada !!!

Keadaan semacam itu sebenarnya aneh, dan lebih aneh lagi kalau dibiarkan terus tanpa penanganan yang benar dan mendasar. Kita sudah memasuki milenium baru, maka diperlukan cara pandang dan sikap yang lebih sesuai. Selama ini, kurikulum meminta ada kualitas hasil tertentu ("lulusan menguasai detailed design") sementara cara atau metode pengajarannya tidak dirancang. Akibatnya, dampak dan implementasi Pola Ilmiah Pokok yang diharapkan tidak dapat terwujud. Semua telah tahu bahwa pada tingkat dosen pengajar-pun tidak ada instrumen khusus yang dapat membuktikan bahwa kegiatan perkuliahannya sungguh mengarah pada internalisasi konsep detailed design di dalam pikiran, sikap dan perilaku mahasiswa. Kesimpulannya, detailed design sebagai PIP Arsitektur Atma Jaya memang masih tinggal di awang - awang, di alam mimpi.

Detailed design dapat dikatakan menjadi "milik" komunitas dosen Arsitektur Atma Jaya karena hingga saat ini tidak pernah menjadi perbincangan (wacana, discourse) yang signifikan di kalangan mahasiswa. Hal itu merupakan bukti yang kuat bahwa kata keramat itu hanya menjadi wacana di kalangan dosen Arsitektur Atma Jaya saja !!! Kata keramat itu akan selalu muncul di dalam lokakarya - lokakarya tahunan, dan tidak pernah diperoleh penjelasan yang memuaskan, terutama yang dapat digunakan untuk operasionalisasinya di dalam pengajaran.

Meskipun kata keramat itu milik para dosen, yang memang merasa memilikinya, namun terbukti juga bahwa sebenarnya mereka tidak mampu (tidak mau ?) melakukan implementasi secara terencana dan sistematis di dalam proses perkuliahan menurut metode pengajaran yang benar dan baik. Dengan demikian, secara faktual terbukti bahwa kata keramat itu hanya menjadi milik para dosen ketika mereka memperbincangkannya, maka kepemilikannya secara inheren layak diragukan. Pertanyaannya adalah : detailed design itu milik siapa ?

Fakta lain menunjukkan keluhan yang muncul justru mengarah pada indikasi - indikasi kuat bahwa para mahasiswa Arsitektur Atma Jaya memiliki kekurangan yang mendasar pada penguasaan hal - hal yang detail. Bukti yang sangat kuat adalah keluhan para dosen Arsitektur Atma Jaya sendiri ketika menguji karya tugas akhir mahasiswa (TGA) yang hampir seluruhnya memiliki kekurangan sangat menonjol pada penguasaan detail - detail penting, baik dari segi ide maupun visualisasinya dalam gambar rancangan. Hal itu menunjukkan bahwa persoalan penguasaan detail pada mahasiswa sampai tingkat akhir-pun memang lemah dan memang pantas menjadi keprihatinan.

Seandainya ujian TGA tersebut dijadikan tolok ukur di ujung proses keberlakuan konsep detailed design di dalam "perilaku profesi" mahasiswa Arsitektur Atma Jaya, maka fakta sudah menunjukkan bahwa kesimpulannya negatif !!! Mengapa demikian ? Dimana salahnya ? Ide detailed design ataukah implementasinya ? Jawaban yang diberikan semestinya disusun melalui suatu proses investigasi yang khusus agar dapat benar (secara substansial) dan bertanggungjawab (sesuai dengan fakta lapangan). Dengan kata lain, diperlukan evaluasi dan refleksi khusus untuk menangani hal itu.

Menurut kami, kondisi semacam ini bersifat fatal sebab komunitas dosen Arsitektur Atma Jaya dapat dikatakan telah gagal menjalankan amanat kurikulum yang diyakininya. Sungguh sangat disesalkan, keadaan semacam itu terus berlangsung tanpa penanganan yang signifikan. Pertanyaannya adalah, apakah konsep detailed design masih akan dipertahankan mati - matian dengan tanpa instrumen yang baik untuk melakukan implementasi sekaligus evaluasi keberhasilannya di era milenium ketiga ini ? Ataukah dicari konsep lain yang lebih signifikan dengan kebutuhan pelayanan profesi arsitek dalam era kini dan yang akan datang serta bersifat reasonable, applicable dan manageable ?

Pendidikan Arsitektur Atma Jaya : kemana arahnya ?

Mungkin ada benarnya bahwa "siapa yang menguasai detail adalah penguasa lapangan", meskipun ada bahaya bahwa "siapa yang terjebak detail adalah terpuruk di dalam kebodohan yang sia - sia". Kalau diingat pandangan - pandangan para pemikir pendidikan, misalnya Broadbent (dalam Pearch & Toy, 1995) dan Neil Leach (dalam Pearch & Toy, 1995 dan 1997), maka lulusan Arsitektur Atma Jaya jelas diarahkan menjadi arsitek - arsitek lapangan. Artinya, mereka dibentuk dan diarahkan lebih sebagai "practical man" daripada "philosopher" (istilah Broadbent), atau menjadi homo faber (manusia tukang) daripada homo cogitans (manusia pemikir) menurut istilah Neil Leach (dalam Pearch & Toy, 1995).

Kesimpulan ini kalau diperiksa dengan fakta lapangan, justru bertentangan. SDM dosen Arsitektur Atma Jaya sebagian besar bukan praktisi arsitektur, hanya sebagian kecil saja yang sehari - harinya akrab dengan kondisi lapangan, dan sebagian besar lainnya bukan praktisi lapangan. Perilaku pengerjaan tugas juga hanya sebagian kecil yang melibatkan dialog dan interaksi dengan lapangan secara intensif dan sistematis. Jadi sebenarnya ada kesenjangan antara "slogan" (detailed design) dengan realitas lapangan, antara PIP dengan praktek pengajarannya. Hal ini perlu mendapat perhatian serius.

Dari sejarah, menurut Broadbent (dalam Pearch & Toy, 1995), pendidikan arsitektur selalu berada diantara dua kutub, yakni membentuk arsitek lapangan atau arsitek pemikir, dalam istilah Broadbent : berada diantara dua kutub pendidikan yang teoritis ataukah ke arah praktis. Arsitektur Atma Jaya tidak menegaskan pilihannya secara eksplisit, tetapi yang eksplisit justru kata kunci detaild design, yang jelas - jelas menunjukkan indikasi "penguasaan lapangan", artinya jelas arsitek yang practical !!!

Masalahnya, pendidikan ke arah praktikal ataukah teoritikal tetap harus dilakukan dengan suatu manajemen atau prosedur perkuliahan yang tertentu dan khas, termasuk lingkungan dan iklim akademisnya. Hal itu berarti bahwa semua pihak yang terkait dapat mengevaluasi, apakah isi pendidikan sudah dapat dioperasionalkan dengan benar dan tepat, dan hasilnya dapat diukur dengan riset khusus. Kalau hal ini tidak ada, maka sulit dipertanggungjawabkan kalau ada pernyataan bahwa "detailed design sudah berlalu di Arsitektur Atma Jaya".

Menurut Giovanni Salvestrini, yang menulis tentang pendidikan arsitektur dalam tradisi Italia, dikatakan bahwa "In order to teach architectural design, the ability to do a good project is not sufficient; one also needs to explain what architectural design is and how one designs. In order to learn design, carrying out a project is not enough" (Salvestrini, dalam Pearch & Toy, 1995:42). Jadi mengarahkan pendidikan hanya menjadi penguasaan lapangan semata ternyata tidak mencukupi kebutuhan perilaku profesi arsitek. Klasifikasi kemampuannya terletak pada ranah kognitif, motorik dan afektif, dan hal itu semestinya muncul secara signifikan di dalam proses - proses pengajaran melalui rancangan manajemen perkuliahan yang sungguh terencana.

Prince of Wales's Institute yang didirikan tahun 1992, misalnya, tegas - tegas memilih basis craftmanship sebagai reaksi terhadap pengembangan arsitektur yang cenderung mekanistis untuk mendorong munculnya nilai - nilai kemanusiaan di dalam desain arsitektur (Broadbent, dalam Pearch & Toy, 1995). Kurikulum dan proses pengajarannya jelas dirancang khusus, yakni banyak bekerja di kerajinan dan hanya sedikit diberikan teori ("based on the crafts and there is very little theory", Broadbent, dalam Pearch & Toy, 1995:22), hal ini mirip Bauhaus di Jerman era masa lalu. Secara ekstrim dikatakan "books are forbidden here".

Lain halnya dengan pandangan Neil Leach, seorang direktur pendidikan master arsitektur dan teori kritis (MA in Architecture and Critical Theory) pada universitas Nottingham, yang menyatakan bahwa pemahaman teoritis para arsitek harus dikembangkan dalam kerangka yang lebih luas karena arsitektur bukanlah realitas yang berdiri sendiri sebab berada di dalam jejaring kehidupan sosial dan politik manusia (Leach, 1997:xiv). Leach melihat bahwa ada kecenderungan pendidikan arsitektur yang "focused too much on abstract, intellectual, architectural project" (Leach, dalam Pearch & Toy, 1995:29) atau "purely abstract intellectual architecture project" (ibid.26).

Hal itu berarti bahwa pendidikan arsitektur harus berdialog dengan berbagai disiplin ilmu. Konsekuensinya, di dalam proses pengajaran dirancang proses dialog dengan berbagai disiplin. Ketika mendalami Barthes atau Derrida , kuliah tidak diberikan oleh dosen arsitektur, tetapi oleh dosen filsafat dan dosen pengajar bahasa modern (Leach, 1995:28). Mahasiswa juga dapat berbagi pandangan, berdebat, dengan mahasiswa fakultas filsafat ketika mereka memperbincangkan Freud ataupun Habermas (Leach, 2995:29). Bagi Leach, "architecture must break with tradition" (ibid.29) dan "architectural education needs to be infected with other discipline" (ibid.28). Bagaimana dengan Arsitektur Atma Jaya ? Tradisi manakah yang akan dianut untuk masa depan ? Selama ini, sebenarnya menganut tradisi yang mana ? Itulah pertanyaan - pertanyaan reflektif yang semestinya direnungkan.

Tegasnya, kini sangat diperlukan paradigma baru dalam pendidikan arsitektur. Pertanyaannya, detailed design sebenarnya mengacu pada paradigma yang mana ? Kalau mengacu pada paradigma homo faber, maka tepatlah kiranya hal itu. Tetapi, menurut Leach (dalam Pearch & Toy, 1995:26) "architecture must go beyond mere craftsmanship" sebab "architecture must engage constructively with theory" juga karena "the art of building was to be informed by a conscious way of thinking". Ataukah detailed design akan diperjelas dan dilengkapi dengan instrumen manajemen perkuliahan yang baik ?

Model Pengajaran dalam Pendidikan Arsitektur

Model pengajaran yang dilaksanakan di Arsitektur Atma Jaya menekankan pada kegiatan kuliah dan studio, artinya mengambil model penjelasan teori dan praktek merancang. Secara faktual sebenarnya model ini cenderung teoritis karena data untuk kegiatan perancangan umumnya tidak valid meskipun dilakukan investigasi ke lapangan. Kalau dicek pelaksanaan tugas - tugas investigasi lapangan, maka terdapat kelemahan pada metode investigasi dan berakibat pada kelengkapan dan kesahihan datanya. Selain itu, mahasiswa sebagian besar waktunya bekerja di studio, di dalam ruangan, dan tidak ada dialog dengan realitas lapangan selama proses perancangan dilakukan. Jadi pendidikan di arsitektur Atma Jaya lebih bermuatan pendidikan teoritis.

Ekstrim lain sebenarnya ada contoh, yakni fenomena kegiatan merancang yang dilakukan oleh arsitek Le Corbusier . Corbu terkenal sebagai arsitek yang banyak merancang vila dan rumah tinggal, dan karyanya selalu merupakan reaksi untuk memanfaatkan kondisi alamiah setempat. Corbu banyak melakukan kegiatan merancang justru di lapangan, dengan cara melakukan peninjauan lapangan dan membuat sketsa - sketsa "on site". Tidak banyak teori yang digunakan, tetapi karyanya merupakan jawaban terhadap realitas lapangan yang senyatanya. Ornamen kadang dia temukan justru di lapangan, misalnya dengan mengamati detail rerumputan, dia melakukan stilisasi bentuk dan ditemukanlah ornamen yang khas bagi bangunan yang akan didirikan. Dengan demikian, ornamen - ornamen karyanya selalu unik dan menarik.

Model Bauhaus merupakan fenomena yang lain, yakni mencoba menyatukan seni (art) dan kerajinan (craftsmanship) dengan arsitektur. Para mahasiswa bekerja di bengkel kerja (workshop) untuk mengembangkan desain yang dikaitkan dengan industrulisasi. Fenomena ini muncul kembali pada Prince of Wales's Institute yang kurikulumnya mirip Bauhaus, namun dengan sebab - sebab yang berbeda. Prince of Wales's Institute muncul sebagai reaksi atas desain arsitektur yang mekanistis, maka unsur kerajinan tangan manusia harus ada di dalam desain arsitektur sebagai bukti keterlibatan nilai - nilai kemanusiaan di dalamnya, bukan nilai - nilai masinal.

Fenomena Arsitektur Atma Jaya dibandingkan dengan fenomena Bauhaus jelas sangat berbeda. Apabila dibandingkan dengan MA di Nottingham, jelas tidak sebanding sebab S-1 dibandingkan dengan S-2. Dibandingkan dengan fenomena Corbu, juga jelas sangat berbeda. Namun demikian, ada juga hal yang dapat dipetik sebagai pelajaran. Kalau benar pendidikan Arsitektur Atma Jaya adalah cenderung teoritis, maka dapat dikatakan sangat teoritis pada aspek dialog dengan lapangan dan dengan teori - teori dari disiplin lain. Dialog dengan teori - teori dari ilmu lain tidak terjadi karena semua mata kuliah cenderung diajarkan oleh para dosen arsitek sendiri. Akibatnya, kalau dosen "ketinggalan jaman" alias "obsolete", maka dapat terjadi mahasiswa akan lebih tertinggal di belakang dan lebih parah.

Idealnya, ketika belajar tentang metoda perancangan, misalnya, mahasiswa memiliki pengalaman dialog dengan para arsitek profesional (praktisi) dan dengan para pencipta dari kalangan seni yang lain (segala macam seni), misalnya dari seni tari, seni patung, seni ukir, dan lainnya. Mahasiswa dapat melakukan dialog langsung bagaimana suatu proses kreatif muncul dan berkembang hingga menghasilkan karya. Mereka dapat belajar dari khasanah ilmu yang lain dan pengalaman lain. Dengan proses dialog yang "lintas ilmu" semacam itu mahasiswa akan diperkaya dan sangat diperkaya. Artinya, kalau pepatah "bagai katak dalam tempurung" berlaku, maka ada kemungkinan tempurung mahasiswa dapat lebih luas dan transparan daripada tempurung dosen pengajarnya.

Masalah pokoknya adalah : ke arah manakah pendidikan Arsitektur Atma Jaya mau dikembangkan ? Mendidik sarjana arsitektur yang praktisi ataukah teoritisi ? Mendidik sarjana yang praktisi sekaligus teoritisi ? Berapa waktu yang tersedia ? Penentuan hal - hal ini sangat mempengaruhi perencanaan unsur - unsur lain, misalnya kurikulum dan metoda serta proses pembelajarannya.

Penutup

Selain desain kurikulum dan perangkat pendukungnya, ada satu faktor yang sangat menentukan dan diperlukan ialah komitmen yang kuat dari para dosen di dalam pelaksanaannya. Kualitas komitmen tersebut kiranya sangat penting, dan telah terbukti bahwa kualitas komitmen sangat dipengaruhi oleh kualitas loyalitas dari para dosen terhadap pengembangan ilmu arsitektur dan terhadap institusinya.

Quo Vadis Arsitektur Atma Jaya ?

Babarsari, 24 Agustus 2000

 

REFERENSI

Bakker, Geoffrey H., Le Corbusier An Analysis of Form, London : VNR, 1984.
Barthes, Roland, The Fashion System, terjm. Matthew Ward & Richard Howard, New York : Hill & Wang, 1983
Bertens, K, Filsafat Barat Abad XX jilid II Perancis, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1996
Leach, Neil, Rethinking Architecture, A reader in Cultural Theory, London : Routledge, 1997
Pearce, Martin & Toy, Maggie, Educating Architects, Great Britain : Academi Editions, 1995

 

 
     
   

No downloadable document.

Untuk membaca dokument PDFanda mesti memiliki ADOBE ACROBAT versi 4.xx.

Download Adobe Acrobat di sini

 

  Tulisan Ir.Y. Djarot Purbadi, MT lainnya :

 

 
 

| back |



 

(C) 2001 - Arsitektur UAJY 
| Contact Us | | About |
Best viewed with : MS Internet Explorer 4.x 800x600
Last Updated 10 Februari 2001



best viewed with 800 x 600
last update 10 Maret 2001